Dropship vs reseller? Kedua model bisnis ini menjadi semakin populer beberapa waktu belakangan. Kebutuhan hidup yang terus bertambah tanpa diiringi pemasukan yang memadai telah mendesak banyak orang untuk mencari sumber pendapatan baru yang lebih fleksibel. Kemampuan untuk menemukan peluang yang menjanjikan menjadi sangat penting, terutama di era yang menawarkan berbagai kesempatan seperti sekarang.
Meskipun sekilas tampak serupa, kedua model ini memiliki perbedaan. Memahami perbedaan dropship dan reseller sangat penting sebagai langkah awal dalam memilih dan memulai bisnis. Dengan informasi ini, kamu dapat menentukan model bisnis yang paling sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, atau tujuanmu.
Baca artikel ini lebih lanjut untuk mengetahui pengertian dan kelebihan masing-masing model bisnis agar dapat membuat keputusan yang tepat dan strategis dalam membangun bisnismu.

Dropship merupakan sebuah model bisnis online yang memposisikan si penjual sebagai perantara antara produsen produk dengan konsumennya. Model bisnis ini sebenarnya sudah muncul sejak lama, namun baru digandrungi oleh pebisnis online di Indonesia beberapa tahun ke belakang. Seperti dikutip CerdasBelanja, Deka Adrai (Co-founder Belajar Online Yuk) mengungkapkan bahwa konsep dropship berkembang pesat di Amerika setelah Amazon meluncurkan toko online pertama mereka. Uniknya, antusiasme ini tidak hanya ditunjukkan oleh para pebisnis namun juga para ahli teknologi.
Alasan dari antusiasme ini pun tak lain karena modal yang diperlukan hanya sedikit bahkan nyaris tak ada. Dropship bisa dimulai tanpa modal dan tanpa stok barang, namun membutuhkan teknik pemasaran yang tepat. Hampir sama dengan menjadi reseller, dropship akan lebih lancar jika kamu berhasil menarik kepercayaan konsumen.
Reseller dibentuk dari dua kata dalam bahasa Inggris, antara lain re yang berarti ulang dan seller yang berarti penjual. Secara harfiah, reseller memiliki arti orang yang menjual ulang suatu barang. Jadi, jika kamu adalah seorang reseller berarti kamu harus membeli terlebih dahulu suatu barang yang kemudian kamu jual kembali ke konsumen kedua.
Berbeda dari dropship, model bisnis ini membutuhkan modal yang mungkin tidak sedikit di awal. Namun, selisih harga beli yang kamu keluarkan kepada supplier dan harga jual yang kamu berikan kepada konsumen bisa menjadi peluang omzet yang cukup tinggi.
Model bisnis reseller ini sebenarnya tidak baru dan sudah ada sejak lama, sama seperti dropship. Hanya saja sekarang semakin marak khususnya di kalangan perempuan melalui produk kecantikan atau pakaian muslim.
Setelah memahami apa itu dropship dan reseller, kini saatnya melihat lebih jauh bagaimana keduanya berbeda. Meski sama-sama populer di kalangan pelaku bisnis online, keduanya ini memiliki karakteristik yang unik. Melalui ulasan berikut, kamu akan mengetahui perbedaan dropship vs reseller secara detail, sehingga dapat menentukan mana yang lebih sesuai.
Perbedaan utama antara dropshipper dan reseller terletak pada modal awal yang diperlukan. Seorang reseller harus memiliki stok barang terlebih dahulu sebelum bisa menjualnya. Hal ini berarti reseller perlu mengeluarkan modal yang cukup besar untuk membeli produk dalam jumlah yang cukup banyak di periode awal bisnisnya. Sebaliknya, seorang dropshipper tidak perlu menyetok barang. Modal yang dikeluarkan hanya biaya untuk melakukan pemasaran seperti budget iklan dan pembuatan konten. Karena tidak perlu membeli barang terlebih dahulu, dropship lebih ramah bagi pemula yang memiliki modal terbatas.
Keuntungan yang diperoleh oleh reseller dan dropshipper juga berbeda. Reseller umumnya bisa mendapatkan margin keuntungan yang lebih besar, terutama jika membeli barang dalam jumlah besar dengan harga grosir yang lebih murah. Dengan demikian, keuntungan reseller lebih fleksibel dan bergantung pada kemampuan negosiasi harga dengan supplier.
Di sisi lain, dropshipper biasanya mendapatkan margin keuntungan sebesar 10% hingga 20% dari harga produk. Meskipun keuntungannya lebih kecil, model dropship tetap menarik karena tidak membutuhkan investasi besar di awal.
Resiko yang dihadapi oleh reseller cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan dropshipper. Karena reseller harus menyetok barang, ada kemungkinan barang tersebut tidak laku terjual, yang dapat menyebabkan kerugian besar. Selain itu, reseller juga harus mempertimbangkan risiko barang rusak atau kadaluarsa jika produk tersebut memiliki masa simpan yang terbatas.
Sebaliknya, dropshipper memiliki risiko yang lebih rendah karena mereka hanya bertindak sebagai perantara antara pembeli dan supplier. Dropshipper tidak perlu khawatir tentang stok barang atau kerugian akibat produk yang tidak terjual.
Sistem kerja dropship lebih sederhana dibandingkan reseller. Dropshipper hanya perlu memasarkan produk melalui media sosial, marketplace, atau platform lainnya. Ketika ada pesanan, dropshipper menghubungi supplier untuk mengirimkan barang langsung ke pembeli.
Kurang lebih, berikut adalah alur bisnis dropship:
Sebaliknya, reseller harus membeli barang terlebih dahulu dari supplier, menyimpan stok, dan mengirimkan produk kepada pembeli. Hal ini membuat sistem kerja reseller lebih kompleks dibandingkan dropship.
Berikut adalah alur yang harus dilakukan untuk menjadi reseller:
Seorang dropshipper tidak perlu repot mengelola inventaris atau stok barang. Dropshipper hanya fokus pada pemasaran dan memastikan pesanan pembeli diteruskan ke supplier. Hal ini menjadikan model dropship lebih praktis, terutama bagi mereka yang tidak memiliki ruang penyimpanan.
Berbeda dengan itu, reseller harus mengelola stok barang secara mandiri. Reseller perlu memastikan stok tersedia dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi permintaan pelanggan. Selain itu, mereka juga harus memantau barang yang hampir habis atau variasi produk (ukuran, warna, dll.) yang tersedia.
Dalam hal pemasaran, reseller memiliki keunggulan karena mereka mengetahui jumlah stok barang yang tersedia dan kualitas produk. Dengan demikian, reseller dapat menawarkan produk secara langsung, baik melalui offline maupun online.
Namun, seorang dropshipper cenderung lebih bergantung pada pemasaran online, seperti melalui media sosial atau aplikasi pesan instan. Karena dropshipper tidak mengetahui jumlah stok di supplier secara pasti, mereka harus lebih fokus pada teknik pemasaran digital untuk menarik perhatian calon pembeli.
Bisnis dropship semakin diminati, terutama oleh mereka yang ingin memulai usaha tanpa harus menghadapi risiko besar. Dalam perbandingan dropship vs reseller, dropship menawarkan kemudahan dan fleksibilitas yang membuatnya ideal bagi pemula atau siapa pun yang ingin memulai bisnis online tanpa resiko besar. Apa kelebihan dari bisnis dropship yang lain?

Sebagai pelaku bisnis yang membeli barang langsung dari supplier untuk dijual kembali, arti kata reseller sendiri menggambarkan peluang besar bagi kamu yang ingin mengontrol penuh stok dan margin keuntungan. Jika kamu masih bingung perbedaan antara dropship vs reseller, bagian ini akan membantu kamu memahami alasan mengapa menjadi reseller bisa menjadi langkah bisnis yang menguntungkan.
Keuntungan yang kamu dapatkan sebagai reseller bergantung pada bagaimana kamu menentukan harga jual. Kamu bisa menyesuaikan harga dengan target audience sendiri.
Baik dropship maupun reseller merupakan peluang bisnis yang menarik, namun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan dropship vs reseller terletak pada cara kamu mengelola produk dan modal yang dibutuhkan. Dropshipper dan reseller bisa menghasilkan keuntungan, tetapi perbedaannya terletak pada fleksibilitas dan risiko yang lebih rendah pada dropshipping. Dalam model dropshipping, kamu hanya perlu fokus pada pemasaran dan penjualan, sementara dalam reseller, kamu harus mengelola stok barang terlebih dahulu, yang bisa membutuhkan lebih banyak modal.
Bagi kamu yang baru ingin memulai, dropship bisa menjadi pilihan yang lebih tepat karena tidak memerlukan modal besar dan risiko yang relatif rendah. Dropshipping memungkinkan kamu untuk memulai bisnis dengan biaya awal yang minim. Namun, agar peluang omzet bisnis dropship bisa lebih meroket, sangat penting untuk belajar terlebih dahulu.
Di OCademy Dropship Masterclass, kamu akan mempelajari berbagai strategi dari ahli yang akan membantu kamu memilih produk winning dari OStock dan menerapkan strategi iklan yang efektif untuk mendapatkan closingan yang tinggi. Selain itu, kamu juga akan mendapatkan panduan tentang bagaimana mengoptimalkan iklan untuk memperluas jangkauan pasar.
Dengan pembelajaran yang tepat, kamu bisa memaksimalkan potensi bisnismu dan meraih keuntungan yang maksimal. Jadi, jangan ragu untuk memulai perjalanan dropshippingmu dengan OCademy!
Featured Images by freepik – www.freepik.com